Japan Pop Culture Sudah Mengalami Kemunduran, dan Kita Harus Jujur Tentang Ini

Faris 53 dilihat

Sebagai generasi yang tumbuh besar dengan anime, manga, dan game Jepang, rasanya sedih melihat apa yang terjadi belakangan ini. Ada sesuatu yang berubah. Kita mungkin tidak ingin mengakuinya, tapi kualitas cerita anime dan pop culture Jepang semakin menurun. Sementara itu, konten dari China dan Korea justru semakin mendominasi.

Bukan bermaksud membenci Jepang — saya tetap mencintai anime klasik dan J-pop. Tapi sebagai penggemar, kita perlu jujur dengan apa yang sedang terjadi.

Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Industri anime Jepang sekarang menghadapi krisis yang cukup serius. Meskipun revenue industri anime mencapai rekor tertinggi sekitar ¥3 triliun, para animator di garis depan justru mendapatkan upah yang sangat rendah. Animator pemula hanya mendapatkan sekitar 1,5 juta yen (sekitar $10.000) per tahun. Itu sangat rendah untuk standar hidup di Tokyo.

Japan Animator - Source: Wallstreet Journal
Japan Animator - Source: Wallstreet Journal

Akibatnya? Kualitas animasi menurun. Banyak anime yang episode pertamanya bagus banget, tapi kualitasnya turun drastis di episode selanjutnya. Istilah "frontloading" mungkin sudah familiar bagi para penggemar — semua budget dicurahkan di awal untuk menarik penonton, lalu sisanya... ya, kita semua tahu apa yang terjadi.

China dan Korea Semakin Mendominasi

Solon Lee - Kuro Games CEO
Solon Lee - Kuro Games CEO

Sementara Jepang sibuk dengan masalah internal, negara lain justru melangkah maju.

Pasarkan manhwa dan webtoon global diperkirakan akan mencapai $45 miliar pada 2030. Angka yang gila besar. Cerita-cerita dari China dan Korea semakin fresh, dengan pacing yang cepat dan konsep yang menarik. Tidak heran jika banyak yang beralih ke manhwa daripada manga.

Lihat saja game gacha. HoYoverse (Genshin Impact, Honkai: Star Rail) sudah menghasilkan lebih dari $5 miliar hanya di China saja, dan diprediksi bisa mencapai $10 miliar secara global. Wuthering Waves dari Kuro Games juga berhasil meraup $233 juta dalam kurang dari setahun.

Bahkan dari Korea, ada NIKKE: Goddess of Victory yang sudah menghasilkan lebih dari $1 miliar. Ini bukan main-main.

Sementara di sisi lain, industri game Jepang terasa stagnan. Banyak game gacha Jepang yang tidak bisa dimainkan oleh pemain internasional karena region lock.

Masalah Region Lock yang Mengganggu

Ini adalah salah satu hal yang paling frustrating sebagai penggemar. Kita ingin mendukung konten Jepang secara legal, tapi kenyataannya banyak platform yang mengunci konten mereka hanya untuk pasar domestik.

Niconico semakin membatasi akses pengguna luar negeri. Crunchyroll punya library yang berbeda untuk Jepang dibanding internasional karena masalah lisensi. Untuk menikmati konten secara resmi, kita seringkali harus "melompat" rintangan yang seharusnya tidak perlu ada.

Di sisi lain, game-game dari China dan Korea kebanyakan global server dari awal. Mereka ingin pemain dari seluruh dunia bisa menikmati konten mereka. Ini adalah perbedaan pendekatan yang sangat terasa.

Lantas, Apa yang Tersisa dari Jepang?

Dari semua ini, ada satu hal yang tetap menjadi kekuatan Jepang dan bahkan semakin kuat: Seiyuu.

Japan Seiyuu - Source: https://animangemu.com/seiyuu-section/
Japan Seiyuu - Source: https://animangemu.com/seiyuu-section/

Seiyuu atau voice actor Jepang adalah sesuatu yang benar-benar tidak bisa digantikan. Mereka sudah menjadi selebriti mainstream. CD dari seiyuu rutin muncul di chart musik Jepang. Konser seiyuu diadakan di berbagai belahan dunia, dan fans rela datang jauh-jauh hanya untuk melihat idola mereka tampil live.

Ini adalah sesuatu yang unik dari budaya pop Jepang. Hubungan antara seiyuu dan karakter yang mereka perankan menciptakan koneksi emosional yang sulit ditiru. Ketika kita menonton anime, kita tidak hanya menikmati cerita — kita juga "mendengar" seiyuu kesayangan kita.

Seiyuu adalah jembatan yang menghubungkan anime dengan penggemar secara personal. Dan ini, menurut saya, adalah satu-satunya hal yang benar-benar membuat pop culture Jepang tetap relevan di mata dunia.

Apa yang Bisa Kita Harapkan?

Saya tidak bilang Jepang akan "mati" dalam hal pop culture. Tapi tren yang ada sekarang cukup concern. Industri perlu beradaptasi. Animator harus dibayar lebih layak. Region lock perlu dikurangi, bukan ditambah. Cerita-cerita baru perlu lebih fresh.

China dan Korea sudah membuktikan bahwa mereka bisa bersaing, bahkan mengalahkan Jepang di beberapa sektor. Jepang punya fondasi yang kuat, sejarah yang panjang, dan talenta-talenta luar biasa termasuk para seiyuu. Tapi tanpa perubahan yang signifikan, gap ini akan semakin lebar.

Sebagai penggemar, kita cuma bisa berharap bahwa industri kreatif Jepang bisa bangkit lagi. Karena sejujurnya, dunia akan menjadi tempat yang kurang berwarna tanpa kontribusi Jepang dalam budaya pop.

Sampai saat itu tiba, mari dukung karya-karya yang memang layak mendapat dukungan, apapun negara asalnya.

Faris

Nanami's Sacho

Tulis Komentar

Komentar anonim diperbolehkan. Komentar akan ditampilkan setelah disetujui.