Fenomena Banyaknya Konten Anak Jualan Produk Digidaw

Teppancake 64 dilihat

Jika kamu sering scrolling For You Page (FYP) TikTok dalam beberapa bulan terakhir, kemungkinan besar kamu pernah tersandung pada satu tren yang cukup meresahkan: video anak-anak di bawah umur—bahkan ada yang masih berseragam SD atau SMP—sedang berpromosi dengan gaya bahasa layaknya motivator bisnis.

Dengan wajah polos, mereka melontarkan kalimat sakti seperti, "Kakak mau sukses di usia muda? Yuk join bisnis produk digital aku, sehari bisa cuan ratusan ribu!" Fenomena ini meledak begitu masif di TikTok hingga memicu perdebatan sengit. Sebenarnya, apa awal mula dari tren ini? Mengapa tiba-tiba anak-anak ini berjualan "produk digital", dan mengapa netizen pada akhirnya justru marah melihat tren ini? Mari kita bedah kronologinya.

Awal Mula Kejadian: Tergiur Flexing para "Mentor"

Semuanya bermula dari tren flexing (pamer kekayaan) yang dilakukan oleh para "mentor" bisnis online di TikTok. Para mentor ini sering memamerkan saldo rekening ratusan juta, gadget terbaru, dan gaya hidup mewah dengan narasi: "Ini hasil jualan produk digital cuma lewat HP."

Janji manis tentang kemerdekaan finansial (mendapatkan uang jajan tambahan jutaan rupiah tanpa harus keluar rumah) ini menargetkan audiens yang rentan, salah satunya adalah anak-anak sekolah. Tergiur oleh iming-iming sukses instan alias get-rich-quick, anak-anak ini (terkadang dengan meminjam uang orang tua mereka) akhirnya membeli "kelas bimbingan" atau "paket produk digital" dari sang mentor.

Apa yang Sebenarnya Mereka Jual? (Skema Mirip MLM)

Setelah bergabung, apa yang anak-anak ini lakukan? Inilah letak masalahnya.

Produk digital yang dimaksud biasanya adalah paket Private Label Rights (PLR) yang berisi ratusan template Canva, preset Lightroom, e-book motivasi hasil copy-paste, atau sekadar akses ke Google Drive berisi file acak.

Parahnya lagi, materi utama yang diajarkan oleh sang mentor bukanlah cara mendesain atau membuat produk baru, melainkan cara menjual kembali kelas atau paket produk digital tersebut kepada orang lain. Alhasil, anak-anak ini dilatih untuk merekrut anggota baru dengan script (naskah) promosi yang sudah disiapkan. Skema ini sangat menyerupai skema piramida atau MLM (Multi-Level Marketing) yang dibungkus dengan embel-embel "Edukasi Digital".

Mengapa Berita Ini Menjadi Sangat Heboh dan Viral?

Kehebohan mulai memuncak ketika banyak kreator edukasi, praktisi pemasaran, dan netizen dewasa mulai menyadari kejanggalan tren ini. Ada beberapa pemicu mengapa linimasa akhirnya meledak:

  • Eksploitasi Anak di Bawah Umur: Netizen merasa miris melihat anak-anak disuruh melakukan Live TikTok berjam-jam, menghafal naskah bisnis yang bahkan tidak mereka pahami istilahnya (seperti funneling, copywriting, atau PLR).

  • Taktik Marketing yang Agresif dan Spam: Anak-anak ini diajarkan untuk melakukan spam komentar di video kreator besar dengan kalimat template, "Wah keren kak, mampir ke profilku ya kalau mau tau cara dapet cuan dari HP." Ini membuat komunitas TikTok sangat terganggu.

  • Membongkar Kedok Sang "Mentor": Puncaknya adalah ketika beberapa kreator besar mulai melakukan stitch atau duet video anak-anak tersebut. Mereka tidak menyerang sang anak, melainkan membongkar bahwa anak-anak ini sebenarnya adalah korban. Pihak yang paling diuntungkan adalah mentor di puncak piramida yang terus meraup uang dari biaya pendaftaran "kelas" yang dibeli oleh anak-anak lugu tersebut.

Kesimpulan: Darurat Literasi Digital dan Pengawasan Orang Tua

Fenomena "bocil jualan produk digital" adalah tamparan keras bagi literasi digital kita. Keinginan anak-anak untuk mandiri secara finansial memang patut diapresiasi, namun mengarahkan mereka ke dalam skema bisnis yang manipulatif adalah sebuah eksploitasi.

Kasus yang heboh di TikTok ini seharusnya menjadi wake-up call (peringatan keras) bagi para orang tua untuk lebih mengawasi aktivitas anak di media sosial. Tidak ada jalan pintas menuju kesuksesan, apalagi jika itu mengharuskan anak-anak menjual janji palsu kepada orang lain.

Source: Ghibran Arrazi, Eno Bening, Dari Suara (YT)

Teppancake

Nanami Content Moderator

Tulis Komentar

Komentar anonim diperbolehkan. Komentar akan ditampilkan setelah disetujui.