Selama beberapa dekade, menyebut kata "anime" otomatis akan mengarahkan pikiran kita ke Jepang. Dari era keemasan Studio Ghibli, dominasi Shounen Jump seperti Naruto dan One Piece, hingga tren isekai masa kini, Jepang adalah raja mutlak di industri budaya pop visual. Anime bukan sekadar tontonan, tapi sudah menjadi gaya hidup global.
Namun, roda industri terus berputar. Para penonton mulai jenuh dengan trope (klise) cerita yang itu-itu saja, dan di saat yang sama, raksasa-raksasa baru mulai bangkit dengan kualitas visual dan cerita yang tak kalah mematikan. Pertanyaannya: Jika dominasi anime Jepang mulai goyah, negara mana yang siap menjadi "The Next Japan" di dunia animasi? Berikut adalah dua kandidat terkuat yang pelan tapi pasti mulai mengambil alih layar kaca para wibu di seluruh dunia:
Korea Selatan: Invasi Besar-besaran Lewat Jalur Webtoon & Manhwa

Jika ada satu negara yang paling pantas menyandang gelar "The Next Japan" di sektor budaya pop, Korea Selatan adalah pemenang mutlaknya. Mereka tidak melawan Jepang dengan membuat studio animasi pesaing secara langsung, melainkan menjajah lewat Sumber Cerita (IP/Intellectual Property).
Era keemasan manga hitam-putih mulai tergeser oleh Webtoon dan Manhwa yang hadir full color dan didesain khusus untuk dibaca scrolling di HP. Cerita-cerita dengan tema hunter, survival game, sistem level (RPG), hingga reinkarnasi balas dendam ala Korea terbukti jauh lebih segar dan brutal. Buktinya? Studio-studio raksasa Jepang kini saling sikut untuk mendapatkan lisensi mengadaptasi manhwa menjadi anime. Fenomena adaptasi besar-besaran seperti Solo Leveling, dan yang akan segera datang seperti Omniscient Reader's Viewpoint hingga Eleceed, adalah bukti nyata bahwa kiblat kiblat tren cerita "anime" perlahan sudah berpindah ke Seoul, bukan lagi Tokyo.
Selain itu, studio animasi Korea Selatan (seperti Studio Mir yang menggarap The Legend of Korra dan animasi Netflix lainnya) sudah lama diakui memiliki kualitas animasi kelas dunia. Tinggal menunggu waktu sampai Korea Selatan sepenuhnya memproduksi adaptasi manhwa mereka dengan studio internal mereka sendiri.
Tiongkok (China): Kebangkitan "Donghua" dengan Visual Dewa

Kandidat kedua yang sangat agresif menyalip Jepang adalah Tiongkok lewat industri Donghua (animasi Tiongkok). Tiongkok memiliki satu hal yang tidak dimiliki Jepang saat ini: Anggaran (Budget) yang nyaris tak terbatas.
Dengan dukungan dari raksasa teknologi seperti Bilibili dan Tencent, industri Donghua berkembang dengan kecepatan kilat. Awalnya mereka memang sering dikritik karena visual 3D yang kaku, tapi lihatlah sekarang. Judul-judul seperti Link Click, The King's Avatar, atau seri kultivasi (Xianxia) seperti Mo Dao Zu Shi menawarkan kualitas animasi 2D dan pergerakan kamera yang seringkali membuat studio Jepang terlihat tertinggal. Selain itu, jam kerja animator di Tiongkok dibayar lebih mahal dengan teknologi produksi yang lebih canggih dibandingkan industri anime Jepang yang saat ini sedang mengalami krisis animator karena overwork dan gaji rendah.
Kesimpulan
Jepang mungkin tidak akan pernah benar-benar mati di dunia animasi, karena akar sejarah mereka terlalu kuat. Namun, status mereka sebagai penguasa tunggal sudah berakhir. Korea Selatan siap menjadi "The Next Japan" dari segi tren cerita, hype, dan dominasi adaptasi manhwa, sementara Tiongkok mengejar dari segi revolusi kualitas produksi Donghua. Bagi kita para penonton, persaingan ketat berarti kualitas tontonan yang akan semakin luar biasa di masa depan.