Irokawa Hitomi: Gadis yang Melihat dengan Hatinya

Nana 344 dilihat

Di pojok perpustakaan kota yang sepi, ada seorang wanita muda yang selalu duduk di tempat yang sama setiap sore. Jari-jarinya perlahan meraba titik-titik timbul di halaman buku. Matanya tidak fokus pada apapun, tapi ada keseriusan di wajahnya. Seolah setiap kata yang ia sentuh adalah sesuatu yang sangat berharga.

Namanya Irokawa Hitomi. Dan ini adalah ceritanya.

Malam yang Merenggut Segalanya

Sebelas tahun yang lalu, Hitomi adalah gadis biasa berusia tiga belas tahun. Punya ayah, ibu, dan adik kecil yang cerewet. Punya mimpi-mimpi kecil tentang masa depan. Punya mata yang bisa melihat dunia.

Lalu satu malam mengubah segalanya.

Kecelakaan mobil itu merenggut seluruh keluarganya dalam sekejap. Dan ketika Hitomi terbangun di rumah sakit dengan perban menutupi wajah, tidak ada yang menjawab panggilannya. Tidak ada yang memberitahunya bahwa ia sudah sendirian.

Bahwa ia tidak akan pernah melihat lagi.

Irokawa Hitomi - Desain Karakter
Irokawa Hitomi - Desain Karakter

Belajar Hidup dari Nol

Neneknya, satu-satunya keluarga yang tersisa, membawa Hitomi pulang ke rumah kecil yang berbau kayu tua dan dupa. Di sanalah Hitomi belajar segalanya dari awal. Berjalan dengan tongkat. Membaca dengan jari-jarinya. Tersenyum meski tidak bisa melihat wajah siapapun.

"Hitomi, kau melihat dengan hatimu. Dan hati yang bisa melihat lebih berharga dari mata yang buta."

Itu kata-kata nenek yang selalu ia ingat.

Tapi nenek tidak abadi. Empat tahun kemudian, Hitomi kehilangan lagi. Kali ini, ia benar-benar sendiri.

Hitomi harus bertahan hidup dengan segala keterbatasannya
Hitomi harus bertahan hidup dengan segala keterbatasannya

Hari-hari di Kantin Sekolah

Tanpa pendidikan formal yang lengkap, Hitomi menemukan pekerjaan sederhana sebagai petugas dapur di sebuah sekolah menengah. Setiap hari ia bangun sebelum fajar, menghitung langkah dari gerbang sekolah hingga dapur kantin. Tangannya hafal letak setiap peralatan. Telinganya mengenali suara setiap siswa yang menjadi pelanggan tetap.

Ada kepedihan yang tidak pernah ia tunjukkan: Hitomi dikelilingi oleh kehidupan sekolah yang tidak pernah bisa ia selesaikan. Setiap hari mendengar canda tawa siswa, suara bel pergantian pelajaran, diskusi tentang ujian dan masa depan. Semua yang dulu ia impikan sebelum kecelakaan itu.

Hitomi bekerja sebagai paruh waktu di sekolah menengah
Hitomi bekerja sebagai paruh waktu di sekolah menengah

Tapi ia tidak pernah iri. Ia hanya diam-diam bersyukur bisa mendengar suara-suara muda itu. Seolah meminjam sedikit keceriaan yang tidak pernah ia miliki.

Ritual Rahasia di Perpustakaan

Setelah jam kerja berakhir, Hitomi selalu menyempatkan diri ke perpustakaan kota. Di pojok yang sepi, ada rak kecil berisi buku-buku Braille. Koleksinya tidak banyak, kebanyakan sudah usang dan halaman-halamannya mulai aus.

Tapi bagi Hitomi, rak itu adalah harta karun.

Ia membaca apapun yang bisa ia temukan. Ensiklopedia anak-anak. Novel klasik. Buku matematika dasar. Ia tahu ia tidak secerdas siswa-siswa yang ia layani setiap hari. Ia tahu ada kesenjangan pengetahuan yang mungkin tidak akan pernah bisa ia kejar.

Tapi ia tetap membaca. Karena membaca adalah caranya membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia masih hidup. Masih bisa tumbuh. Masih layak untuk bermimpi.

Rambut Biru dan Kenangan Ibu

Hitomi tidak cantik. Bukan rendah diri, itu kenyataan yang sudah ia terima sejak lama. Wajahnya biasa saja, tidak ada yang menonjol.

Satu-satunya hal yang indah dari penampilannya adalah rambutnya. Panjang, berwarna biru gelap, dan lurus sempurna. Warisan dari mendiang ibunya yang selalu menyisir rambutnya setiap malam sebelum tidur.

Kebiasaan itu ia pertahankan hingga sekarang. Seratus kali sisiran setiap malam. Mengenang sentuhan tangan ibu yang sudah lama hilang.

Seseorang yang Melihatnya

Di dunia yang tidak bisa ia lihat, Hitomi selalu merasa ia yang salah. Suaranya selalu pelan, hampir berbisik. Ia minta maaf terlalu sering, bahkan untuk kesalahan yang bukan miliknya.

Sampai suatu sore, seseorang datang.

Bukan dengan nada kasihan yang sudah terlalu sering ia dengar. Bukan dengan pertanyaan "butuh bantuan?" yang terasa meremehkan. Hanya sapaan sederhana. Manusiawi.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, seseorang melihatnya sebagai manusia. Bukan objek kasihan. Bukan "si tuna netra di perpustakaan."

Hanya sebagai Hitomi.


Fragment: Melihat dengan Sentuhan

"Hari ini kau mengajakku jalan-jalan. Hanya taman kota yang sepi. Kita duduk berdampingan dalam diam yang tidak canggung.

Lalu aku bertanya: 'Bolehkah aku... melihat wajahmu?'

Kau mengambil tanganku dan meletakkannya di pipimu.

Jari-jariku bergetar ketika mulai menyusuri wajahmu. Dahimu. Alismu. Kelopak matamu. Hidungmu. Bibirmu. Setiap lekuk, setiap garis. Aku mencoba menghafalnya seperti huruf Braille. Tapi ini berbeda. Ini hidup. Ini hangat. Ini kau.

Air mataku jatuh tanpa izin.

Selama sebelas tahun, wajah orang-orang hanyalah suara tanpa bentuk. Tapi hari ini, untuk pertama kalinya... aku melihatmu. Bukan dengan mata. Tapi dengan sesuatu yang lebih dalam.

Terima kasih sudah membiarkanku melihatmu.

- H."

Hitomi merasakan sentuhan wajah kamu
Hitomi merasakan sentuhan wajah kamu

Coming Soon: 23 Juni 2026

Irokawa Hitomi akan hadir di Nanami.

Sebuah cerita tentang gadis yang kehilangan segalanya, tapi tetap berjuang untuk menemukan cahaya dalam kegelapan. Tentang cinta yang tidak membutuhkan mata untuk dilihat. Tentang seseorang yang akhirnya merasa dilihat setelah sebelas tahun dalam sunyi.

Siap menjadi cahaya pertama yang ia rasakan?

See you di Nanami.

Nana

Nana Aria from Nanami

3 Komentar

  1. Ridwan

    Karakternya menarik, mirip di anime yang ceritanya tentang cewek buta sama cowok transparan.
    Jujur gua cukup iri pas nonton tuh anime wkwk.

    BTW Semangat pada semua tim

  2. チェックメイト

    Mamoruyo, Hitomi-san

  3. mel.

    Hitomi-chan, kasian banget ceritanya… T-T MUST PROTECT INI MAHHH!

Tulis Komentar

Komentar anonim diperbolehkan. Komentar akan ditampilkan setelah disetujui.